Makassar, 29 Oktober 2026 – Badan Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah XV bekerjasama dengan Fakultas Kehutanan Unhas melaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Aksi Kampanye Mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) ini menghadirkan narasumber dari Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sulawesi, UPTD KPH Cenrana Kabupaten Bone, dan Fakultas Kehutanan Unhas.
Dekan Fakultas Kehutanan Unhas, Prof. Dr. Ir. A. Mujetahid M., S.Hut., M.P., IPU., secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Fakultas Kehutanan Unhas sangat mendukung kegiatan positif seperti sosialisasi dan kampanye mitigasi karhutla sebagai upaya meningkatkan kesadaran serta kepedulian terhadap perlindungan hutan dan lingkungan.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi semangat berkelanjutan dalam memelihara dan melestarikan hutan yang dicintai bersama. Melalui edukasi dan kampanye yang melibatkan berbagai pihak, upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan diharapkan semakin kuat serta mampu menumbuhkan tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian hutan bagi generasi mendatang.

Narasumber pertama, Tasurruni, S.Hut., M.Si., dari Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sulawesi, membawakan materi bertajuk Dari Pencegahan hingga Pemadaman: Strategi Pencegahan Karhutla di Lapangan. Ia membahas pentingnya pengendalian karhutla melalui tiga aspek utama, yaitu pencegahan, penanggulangan atau pemadaman, serta penanganan pascakebakaran. Upaya pencegahan dilakukan melalui patroli, sosialisasi kepada masyarakat, pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA), pemetaan wilayah rawan, serta pemantauan titik panas (hotspot) untuk mendukung deteksi dini.
Dalam pemaparannya, Tasurruni juga menjelaskan bahwa penanganan kebakaran membutuhkan pengamatan kondisi lapangan, penentuan garis kontrol, pembuatan ilaran api, serta penggunaan peralatan pemadaman sesuai kondisi kebakaran. Koordinasi antarpemangku kepentingan, penerapan prosedur keselamatan, dan pemeriksaan lanjutan setelah pemadaman menjadi bagian penting untuk memastikan api benar-benar padam dan mencegah kebakaran meluas kembali.
Narasumber kedua, Andi Tonra Solie, S.Hut., M.Si., dari UPTD KPH Cenrana Kabupaten Bone, menyampaikan materi Aksi Nyata Penanganan Karhutla di Wilayah Kerja UPTD KPH Cenrana. Ia memaparkan tantangan pengendalian karhutla pada wilayah kerja seluas sekitar 57.011 hektare yang mencakup hutan lindung dan hutan produksi. Luasnya wilayah pengawasan membutuhkan strategi terarah melalui patroli, pemantauan kawasan rawan, sosialisasi kepada masyarakat, serta pemantauan titik panas sebagai informasi awal untuk mengantisipasi kebakaran.


Ia menekankan bahwa penanganan karhutla membutuhkan respons cepat melalui pengerahan personel, pengecekan lokasi, koordinasi dengan pihak terkait, dan dokumentasi kejadian. Keterlibatan masyarakat, pemuda, dan mahasiswa juga diperlukan melalui penyebaran informasi pencegahan, penghindaran praktik pembakaran lahan secara sembarangan, serta pelaporan indikasi kebakaran kepada pihak berwenang.
Narasumber ketiga, Prof. Dr. Ir. Syamsuddin Millang, M.S., IPU., dari Fakultas Kehutanan Unhas, membawakan materi Karhutla dalam Perspektif Sains: Memahami Penyebab, Dampak, dan Solusi. Ia menjelaskan konsep segitiga api yang terdiri atas panas, oksigen, dan bahan bakar, serta berbagai faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan, baik akibat faktor alam maupun aktivitas manusia. Karhutla dapat menimbulkan dampak luas, mulai dari gangguan kesehatan akibat kabut asap, terganggunya transportasi, dan kerugian ekonomi hingga kerusakan ekosistem serta hilangnya habitat satwa liar.
Sebagai langkah pencegahan, Prof. Syamsuddin menekankan pentingnya menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar, mengelola sampah secara bijak, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap sumber api di kawasan hutan dan lahan kering. Pemantauan wilayah rawan, penyuluhan, penyediaan sarana pemadaman, dan penguatan Masyarakat Peduli Api juga menjadi bagian dari upaya mitigasi. Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mencegah karhutla semakin meningkat sebagai wujud tanggung jawab bersama dalam menjaga hutan tetap lestari dan lingkungan tetap sehat.



