Maros – Upaya meningkatkan kualitas, daya tahan, dan nilai ekonomis produk kerajinan berbasis hasil hutan terus digencarkan oleh para dosen Program Studi Rekayasa Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas). Melalui Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK), tim dosen Prodi Rekayasa Kehutanan Fakultas Kehutanan Unhas melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat terkait teknik perawatan produk bambu laminasi di Kelurahan Taro’ada, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, pada Sabtu (24/10/2026).
Kegiatan pengabdian ini diprakarsai oleh tim dosen yang diketuai oleh Prof. Dr. Andi Detti Yunianti, S.Hut., M.P., dengan didukung oleh para anggota tim yang terdiri dari Dr. Tigin Dariyati, S.P, MSc (Fak. Pertanian) Prof. Dr. Suhasman, S.Hut., M.Si., Dr. Kidung Tirtayasa Putra Pangestu, S.Hut., M.Si., serta Sahriyanti Saad, S.Hut., M.Si., Ph.D., yang sekaligus bertindak sebagai pemateri utama dalam kegiatan tersebut.
Dalam sesi edukasi yang diikuti dengan antusias oleh warga dan kelompok tani setempat, materi difokuskan secara spesifik pada topik Merawat Produk Bambu Laminasi untuk Mencegah Pertumbuhan Jamur. Bambu laminasi sendiri merupakan inovasi pengolahan yang dibuat dengan merekatkan beberapa bilah bambu yang dapat diwarnai menggunakan pewarna alami, seperti kesumba, secang, tegeran, dan daun indigofera, untuk diolah menjadi berbagai barang rumah tangga serta cendera mata.

Sahriyanti Saad selaku pemateri menjelaskan bahwa agar kualitas produk tetap terjaga, aspek perawatan perlu memperhatikan kebersihan permukaan, kekuatan sambungan, serta kondisi tepi dan sudut produk. Peserta diedukasi mengenai berbagai ancaman utama terhadap produk bambu, mulai dari pertumbuhan jamur pelapuk yang menyebabkan pelapukan dan penurunan kualitas, hingga jamur pewarna (blue stain) yang menimbulkan noda kelabu kebiruan hingga kehitaman.
Selain itu, produk bambu kering juga perlu diwaspadai terhadap serangan rayap kayu kering dan kumbang bubuk kayu kering yang dapat dikenali melalui lubang-lubang kecil serta butiran kotoran atau serbuk halus di sekitar produk. Peserta diberikan panduan praktis penanganan, seperti membersihkan jamur menggunakan kain lembut, mengeringkan produk, serta memisahkannya dari stok lainnya. Pemateri juga mengingatkan untuk menghindari penyikatan atau pengamplasan jamur dalam kondisi kering di ruang tertutup guna mencegah penyebaran spora dan kerusakan lapisan akhir (finishing).
Sebagai bagian dari komitmen pengabdian dan dukungan nyata terhadap penyediaan bahan baku jangka panjang, Ketua Tim Pengabdian Prof. Andi Detti Yunianti turut menyerahkan bantuan berupa cangkul kepada Kelompok Tani Padaidi. Bantuan alat tersebut ditujukan untuk meremajakan tanaman bambu yang dikelola oleh kelompok tani, sehingga produktivitas dan ketersediaan bahan baku bambu tetap berkelanjutan.
Melalui penguatan inovasi berbasis hasil riset dan pendampingan teknis ini, kegiatan pengabdian kepada masyarakat turut mendukung pencapaian beberapa aspek Sustainable Development Goals (SDGs). Secara spesifik, program ini berkontribusi pada SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan peluang usaha berbasis sumber daya lokal, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui hilirisasi inovasi perguruan tinggi, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemeliharaan produk ramah lingkungan, serta SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui pengelolaan sumber daya hutan secara berkelanjutan.





