Dari Riset ke Market: Fakultas Kehutanan Unhas Dorong Hilirisasi Produk Inovasi Dosen

Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin menyelenggarakan Workshop Hilirisasi (Spin-off) Produk Inovasi Dosen pada Kamis, 12 Februari 2026, pukul 13.30 Wita hingga selesai, bertempat di Ruang Rapat Senat Lantai 2 Fakultas Kehutanan. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam mendorong hasil riset dosen agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan masuk ke ranah industri.

Workshop dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan III Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi, dan Alumni, Prof. Syahidah, S.Hut., M.Si., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa hilirisasi merupakan tantangan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi. “Dosen tidak hanya harus unggul dalam penelitian, tetapi juga perlu memahami strategi pemasaran produk inovasinya. Hilirisasi membutuhkan waktu, komitmen, dan kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa di tengah padatnya tanggung jawab Tridharma, dosen perlu meluangkan waktu untuk memahami sektor hilirisasi. Menurutnya, inovasi yang dihasilkan dari kampus harus memiliki keberlanjutan dan nilai tambah, sehingga dapat memberikan dampak ekonomi maupun sosial secara nyata.

Hadir sebagai narasumber, Viringga Prasetyaji Kusuma selaku Founder Amati Indonesia, memaparkan strategi untuk melewati fase krusial yang dikenal sebagai valley of death, yakni masa ketika hasil riset gagal melangkah dari laboratorium menuju pasar. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah proses inkubasi melalui inkubator kampus yang membantu pengurusan legalitas, pencarian mitra industri, hingga pelaksanaan uji pasar.

Lebih lanjut, Viringga mendorong dosen untuk mulai “menjual ide” riset kepada mahasiswa. Mahasiswa dapat berperan sebagai agen pengembangan dan pelaksana implementasi gagasan, sementara dosen bertindak sebagai pemilik ide dan konseptor. Ide yang telah dikembangkan selanjutnya dapat diinkubasi agar memiliki kesiapan bisnis. Bahkan, konsep marketplace internal mahasiswa turut diperkenalkan sebagai wadah distribusi dan validasi awal produk inovasi.

Dalam sesi diskusi, ditegaskan bahwa riset harus berangkat dari masalah nyata yang dihadapi masyarakat. Ide permasalahan dalam proposal penelitian perlu dirancang berdasarkan kebutuhan riil, sehingga hasilnya benar-benar menjadi problem solving permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat/konsumen. Namun, mengingat keterbatasan waktu dosen untuk terlibat langsung dalam aktivitas bisnis, pendekatan kolaboratif menjadi kunci: dosen sebagai penggagas ide, mahasiswa sebagai agen perubahan, dan inkubator kampus sebagai fasilitator pengembangan.

Workshop juga membahas pentingnya problem validation sebelum produk diluncurkan. Tahapan yang dilakukan meliputi segmentasi pasar (geografi, demografi, psikografi, dan perilaku), menentukan minimal 30 responden, menyusun pertanyaan survei, menganalisis hasil, hingga menetapkan tindak lanjut. Produk dapat dinyatakan go apabila minimal dua pertiga responden menganggap persoalan tersebut sebagai masalah utama. Ketika pasar mulai menunjukkan ketertarikan, inovasi dapat masuk ke tahap Minimum Viable Product (MVP). Metode design thinking diperkenalkan sebagai pendekatan efektif yang aplikatif pada berbagai produk, termasuk inovasi berbasis daur ulang. Melalui langkah sistematis ini, Fakultas Kehutanan Unhas optimistis bahwa riset dosen dapat melaju dari kampus menuju pasar dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Bagikan