Syiar GUMSB di Fakultas Kehutanan Unhas: Bentengi Diri dari Kesyirikan Modern dan Pererat Silaturahmi

Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi tuan rumah (Host) pelaksanaan Gerakan Unhas Mengkaji dan Shalat Berjamaah (GUMSB) yang dirangkaikan dengan Studi Alquran Intensif (SAINS), Buka Puasa Bersama, dan Shalat Maghrib Berjamaah. Mengangkat tema “Ketika Berhala Tidak Lagi Berbentuk Patung: Mengenali Kesyirikan di Zaman Modern”, kegiatan ini dilaksanakan secara hibrida yang berpusat di Masjid Ash-Shahabi Fakultas Kehutanan Unhas Tamalanrea serta terhubung secara daring via Zoom Meeting pada Kamis (15/10).

Acara yang dipandu oleh Ustaz Akbar, S.Pd.I., M.E.Sy. selaku moderator ini diawali dengan sesi mengaji dan tahsinul Quran bersama Ustaz Drs. H. Sulaiman Gosalam, M.Si. Sesi kerohanian ini diikuti dengan penuh khidmat oleh jajaran pimpinan fakultas, tenaga kependidikan, serta mahasiswa yang memanfaatkan momentum majelis ini untuk memperbaiki dan memperindah bacaan Al-Quran di tengah padatnya aktivitas akademik kampus.

Selaku Host kegiatan GUMSB, Dekan Fakultas Kehutanan Unhas, Prof. Dr. Ir. H. A. Mujetahid M., S.Hut., M.P., IPU., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya majelis ilmu dan silaturahmi ini. Beliau secara khusus memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat para mahasiswa dalam mengikuti sesi tahsin. “Ini bukan hanya sekadar kita belajar bagaimana mengaji dan mengkaji, tetapi bagaimana memperbaiki bacaan kita. Alhamdulillah, bacaan mahasiswa kita luar biasa bagus, dan bagi yang belum, kita akan terus belajar bersama,” tuturnya.

Memasuki sesi kajian utama, pemateri Ustaz H. Salahuddin Guntung, Lc., M.A., Ph.D. hadir mengupas tuntas tentang ragam bentuk kesyirikan yang kerap tidak disadari oleh umat Islam di era kiwari. Beliau mengajak para jamaah untuk merenungi kembali esensi tauhid dan menyadari bahwa modernisasi telah menggeser makna berhala menjadi sesuatu yang lebih abstrak, tidak lagi terbatas pada wujud fisik atau patung semata.

Dalam pemaparannya, Ustaz Salahuddin menegaskan bahwa tauhid dan kesyirikan adalah dua hal yang saling bertolak belakang dan tidak mungkin bersatu. “Jika salah satunya ada pada diri seseorang, maka yang satunya akan putus. Ketika seseorang bertauhid secara benar, maka kesyirikan akan hilang, sebaliknya jika jatuh ke dalam kesyirikan, maka ketauhidan akan hilang dari dirinya,” jelasnya. Ia juga merujuk pada definisi kamus bahwa berhala pada esensinya adalah segala sesuatu yang dipuja, disembah, dan didewakan, yang dalam konteks kehidupan modern bisa menjelma menjadi hal-hal duniawi.

Setelah sesi materi dan diskusi usai, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan acara Buka Puasa Bersama saat waktu Maghrib tiba. Suasana keakraban dan kebersamaan begitu terasa di lingkungan Masjid Ash-Shahabi, yang kemudian langsung disusul dengan Shalat Maghrib Berjamaah sebagai penutup rangkaian utama kegiatan kerohanian ini. Melalui syiar GUMSB ini, diharapkan dapat mengokohkan keimanan seluruh sivitas akademika Unhas, membentengi diri dari kesyirikan modern, serta mempererat tali silaturahmi.

Bagikan