Makassar – Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) terus berkomitmen memberikan perhatian khusus kepada para dosen yang tengah bersiap melanjutkan studi S3 demi memperkuat mutu pendidikan tinggi. Komitmen ini mengemuka dalam pertemuan koordinasi persiapan kelanjutan studi yang dilaksanakan di Ruang Rapat Senat Lantai 2 Fakultas Kehutanan Unhas pada Senin, 7 September 2026.
Ketua Departemen Kehutanan Fakultas Kehutanan Unhas, Dr. Ir. Andi Sadapotto, MP., menyampaikan, “Melalui pertemuan ini kami ingin mendengarkan langsung berbagai tantangan dan masalah yang dihadapi oleh 13 dosen kita, dan kami akan membahasnya lebih lanjut bersama pimpinan fakultas untuk memberikan metode dukungan yang terbaik”.
Dalam pertemuan tersebut, para dosen menyampaikan antusiasme tinggi untuk segera memperdalam ilmu di bidang keahlian masing-masing. Kendati demikian, perjalanan menuju studi lanjut tentu memiliki tantangan tersendiri bagi mereka yang sedang aktif mengajar. Salah satu fokus utama yang dihadapi adalah pencapaian standar kemampuan bahasa Inggris, seperti skor IELTS, yang menjadi syarat penting kuliah di luar negeri. Selama ini, para dosen telah berupaya membagi waktu antara kegiatan belajar mandiri, kursus daring, dan padatnya tanggung jawab melayani mahasiswa di kampus.
Melihat tantangan tersebut, para dosen berharap adanya dukungan penguatan akademik yang lebih terpusat dari fakultas. Program pelatihan bahasa Inggris secara intensif dengan salah satu opsi adalah program karantina karena dinilai dapat menjadi solusi yang membantu. Dengan metode pendukung yang tepat, para dosen dapat mencurahkan waktu dan konsentrasi untuk belajar tanpa terpecah sepenuhnya oleh urusan administrasi harian di kantor.
Selain urusan bahasa, diskusi juga membahas pentingnya penyesuaian topik penelitian dan jejaring bagi para dosen dengan calon pembimbing akademik di luar negeri. Dalam praktiknya, arah riset yang dirancang terkadang perlu disesuaikan dengan masukan dari calon pembimbing global maupun ketersediaan skema beasiswa riset yang ada. Oleh karena itu, kelenturan dalam penyesuaian bidang ilmu sangat diharapkan agar para dosen lebih mudah mengambil peluang riset yang tepat.
Kebijakan Unhas yang mengarahkan para dosen untuk menempuh studi lanjut di luar negeri dilihat sebagai peluang besar bagi para dosen muda untuk memperluas jejaring keilmuan internasional. Saat ini, beberapa di antara mereka bahkan telah aktif membangun komunikasi awal dengan kampus-kampus mitra di luar negeri serta memetakan berbagai pilihan beasiswa riset di Eropa, Jepang, hingga Australia. Melalui dialog terbuka ini, Fakultas Kehutanan Unhas merasa yakin proses persiapan studi lanjut para dosen dapat berjalan lebih lancar dan melahirkan para doktor baru yang siap membawa kemajuan bagi institusi.



