Rabu, 22 Juli 2026 – Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Macaca Maura Project (MMP) memperkuat kolaborasi strategis melalui penyelenggaraan Workshop Diskusi Rencana Aksi Macaca Maura dan Habitatnya yang diadakan secara hibrida di Ruang Rapat Senat Lt.2 Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin dan melalui Zoom Meeting.
Turut hadir perwakilan instansi mitra, mulai dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Selatan, Balai Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), BPDAS Jeneberang Walanae, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sulawesi Selatan, Flora & Fauna International (FFI), WALHI Sulawesi Selatan, Seed Project, serta partisipasi daring dari IUCN dan Prakarsa Konservasi Ekologi Regional Sulawesi (PROGRES). Kegiatan ini juga dihadiri oleh mahasiswa asing peserta kerja sama internasional, yaitu Mr. Vasco Alexander Marten dari Universitas Portsmouth, UK, dan Mr. Logan Wilson dari Universitas Leipzig, Jerman.
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Kehutanan Unhas, Prof. Dr. Ir. A. Mujetahid M, S.Hut., MP., yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif pelaksanaan workshop terkait rencana aksi Macaca maura dan habitatnya ini. Beliau menegaskan bahwa Fakultas Kehutanan sangat mendukung kegiatan konservasi tersebut, yang merupakan kelanjutan dari riset jangka panjang yang telah berjalan selama 10 hingga 15 tahun terakhir, serta mengapresiasi dukungan dan fasilitasi aksi dari TN Babul maupun Balai Besar KSDA.

Dalam sesi pemaparan dan diskusi interaktif yang dipandu langsung oleh Prof. Dr. Risma Illa Maulany, S.Hut., M.NatRest. (dosen Konservasi Fakultas Kehutanan Unhas), Victor hadir sebagai peneliti dari Macaca Maura Project (MMP) untuk memaparkan pembahasan serta peta pengelompokan lokasi tempat Macaca maura berada, di samping riset yang telah dilakukan di lapangan termasuk pelibatan masyarakat dan anak-anak di Bulukumba. Sementara itu, Prof. Erin (perwakilan Seed Project) mengikuti jalannya kegiatan secara daring (online) untuk menggarisbawahi pentingnya pengamatan mendalam terhadap pola makan dan perilaku Macaca maura, serta pihak TN Babul dan BKSDA Sulsel memaparkan data monitoring populasi dan sebaran satwa di berbagai kawasan konservasi seperti Karaenta, Soppeng, TWA Lejja, hingga TWA Sidrap.
Berbagai tantangan krusial turut dibahas secara mendalam, termasuk ancaman fragmentasi habitat akibat pembangunan infrastruktur dan perluasan lahan pertanian yang memutus koridor alami pergerakan satwa. Perwakilan Macaca Maura Project (MMP) dan WALHI Sulsel menekankan urgensi edukasi publik di Bulukumba serta perlindungan kawasan karst di Maros, Pangkep, dan Barru. Pendekatan ini dinilai esensial untuk menyeimbangkan antara kebutuhan ruang hidup masyarakat dan perlindungan koridor jelajah satwa endemik.
Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Prof. Dr. Ir. Ngakan Putu Oka, M.Sc. (dosen Konservasi Fakultas Kehutanan Unhas) menekankan perlunya pembangunan koridor satwa serta reboisasi terintegrasi untuk menyambungkan kelompok-kelompok Macaca maura yang terisolasi. Pihak BPDAS Jeneberang Walanae menyatakan kesiapan dalam menyelaraskan Rencana Umum Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dengan jenis pakan satwa melalui mekanisme Forum Group Discussion (FGD). Selain itu, isu kesehatan satwa akibat pemberian pakan sembarangan oleh pengendara yang melintas turut menjadi perhatian bersama dalam upaya menjaga perilaku alami satwa.
Melalui kolaborasi erat antara Fakultas Kehutanan Unhas dan Macaca Maura Project serta dukungan kelembagaan yang matang ini, diharapkan dapat terwujud langkah nyata demi menjaga keberlangsungan populasi Macaca maura sebagai warisan ekologis penting di Sulawesi Selatan.


