Tingkatkan Nilai Ekonomi Madu Hutan, UKM P.A.L Unhas Hadirkan Program El-BOMA di Bone

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pandu Alam Lingkungan (P.A.L) Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin sukses melaksanakan program bina desa bertajuk “El-Boma (Elle’ Cani’ Bonto Masunggu)” di Desa Bonto Masunggu, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Bone pada 29-30 Juni 2026. Inisiatif ini merupakan langkah strategis mahasiswa dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam di desa penyangga Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Desa Bonto Masunggu memiliki karakteristik ekosistem karst dengan vegetasi kaya nektar yang menjadikannya lokasi ideal bagi habitat lebah. Namun, potensi ini belum tergarap maksimal akibat minimnya pemahaman masyarakat mengenai teknik budidaya modern dan keterbatasan strategi pemasaran produk. Selama ini, warga masih sangat bergantung pada pemanenan madu liar yang bersifat musiman, sehingga produktivitas dan nilai jual produk masih jauh dari potensi maksimalnya.

Melalui program El-Boma, mahasiswa Unhas hadir memberikan pendampingan komprehensif bagi masyarakat dan pemuda setempat. Fokus utama kegiatan meliputi pelatihan teknis pembuatan stup lebah yang ergonomis, penguatan kelembagaan kelompok usaha, hingga edukasi pemasaran digital. Selain itu, tim juga memperkenalkan konsep tanaman pakan lebah berbasis Apiculture untuk memastikan ketersediaan pakan bagi koloni lebah sepanjang musim.

Proses pendampingan dilakukan secara partisipatif, mulai dari sosialisasi, pemberian materi teknis, hingga praktik langsung di lapangan. Salah satu poin krusial dalam pelatihan ini adalah teknik pemindahan koloni lebah dari sarang alami ke dalam stup. Metode ini memungkinkan masyarakat untuk melakukan pemeliharaan yang lebih terukur, ramah lingkungan, serta menjamin keberlanjutan produksi madu tanpa harus terus-menerus mengeksploitasi sarang di hutan.

Antusiasme warga pun terlihat jelas saat praktik lapangan berlangsung. “Saya baru tahu kalau ternyata koloni lebah bisa dipindahkan ke dalam stup. Selama ini kami pikir lebah hanya bisa dipanen dari sarang yang ada di hutan. Kalau memang bisa dipelihara seperti ini, tentu hasil madu bisa lebih banyak dan tidak perlu terus mencari sarang baru,” ujar salah seorang warga yang disambut rasa takjub oleh peserta lainnya.

Ke depannya, program El-Boma diharapkan mampu menjadi katalisator bagi transformasi ekonomi masyarakat Desa Bonto Masunggu. Dengan beralih ke sistem budidaya yang lebih produktif dan modern, diharapkan kelompok usaha madu desa dapat meningkatkan daya saing produk di pasar yang lebih luas, sekaligus memperkuat peran desa sebagai garda terdepan dalam mendukung konservasi kawasan hutan secara berkelanjutan.

Bagikan