Riset Lapangan Fakultas Kehutanan Unhas Buka Peluang Penguatan Sutera Lokal Bone

Bone, 9 Februari 2026 — Upaya menjaga keberlanjutan hasil hutan bukan kayu terus dilakukan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas). Melalui kegiatan riset lapangan, tim Peneliti Sutera Kehutanan menyambangi komunitas penenun kain sutera di Dusun Opo Riattang, Desa Opo, Kecamatan Ajangale, Kabupaten Bone, guna memotret langsung kondisi produksi dan potensi pengembangannya.

Kegiatan ini melibatkan dosen dan peneliti Fakultas Kehutanan Unhas, yakni Dr. Ir. Sitti Nuraeni, MP., Dr. Ir. Andi Sadapotto, MP., dan Andi Prastiyo, S.Hut., M.Hut., yang didukung oleh tim pendamping Abd. Rahman, S.Hut., A. Ahmad Aisy Khairan Alalsah, S.Hut., dan Dwia Puteri Annisa, S.Hut. Kehadiran pemangku kepentingan daerah, seperti Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bone Ibu Nuraqidah, S.TP., M.Si., serta Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Ajangale Bapak Hasanuddin, S.TP., memperkuat sinergi antara akademisi dan pemerintah daerah.

Berbeda dari kunjungan seremonial, aktivitas ini difokuskan pada dialog terbuka dengan para penenun dan pengepul sutera. Tim peneliti menggali informasi mengenai asal bahan baku, proses penenunan yang masih mempertahankan cara tradisional, hingga persoalan yang kerap dihadapi perajin dalam menjaga mutu produk dan kesinambungan usaha.

Menurut Dr. Sitti Nuraeni, sarung sutera Bone memiliki kualitas yang sudah sangat baik, namun masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan. Ia menyoroti pentingnya ketersediaan benang sutera lokal guna mempersingkat rantai pasok, disertai peningkatan kualitas pengemasan dan penguatan identitas visual melalui motif khas yang mencerminkan budaya lokal Bone.

Senada dengan itu, Dr. Andi Sadapotto menilai bahwa tantangan pengembangan sutera tidak dapat diselesaikan hanya melalui peningkatan teknik produksi. Ia menekankan perlunya pendampingan jangka panjang yang mencakup pengelolaan usaha dan perluasan jaringan pemasaran, sehingga perajin mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan pasar.

Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Ibu Nuraqidah menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Bone secara konsisten mendorong penggunaan produk sutera lokal dalam berbagai kegiatan resmi, termasuk pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Bone dan kegiatan organisasi perempuan. Sementara itu, Bapak Hasanuddin menilai sarung sutera Bone memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai produk identitas daerah yang dapat dipadukan dengan Songkok Recca.

Bagi para penenun, kunjungan Fakultas Kehutanan Unhas menjadi ruang bertukar gagasan dan menyampaikan harapan. Perwakilan penenun, Ibu Nurlia, berharap pendampingan yang dilakukan dapat membantu memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan pendapatan. Kegiatan ini sekaligus mencerminkan kontribusi Fakultas Kehutanan Unhas terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya penguatan ekonomi masyarakat, industri kreatif lokal, dan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari.

Bagi para penenun, kunjungan Fakultas Kehutanan Unhas menjadi ruang bertukar gagasan dan menyampaikan harapan. Perwakilan penenun, Ibu Nurlia, berharap pendampingan yang dilakukan dapat membantu memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan pendapatan. Kegiatan ini sekaligus mencerminkan kontribusi Fakultas Kehutanan Unhas terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya penguatan ekonomi masyarakat, industri kreatif lokal, dan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari.

Bagikan