Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) berperan aktif sebagai narasumber dalam kegiatan Sosialisasi dan Implementasi Mesin Evaporator Madu dan Budidaya Lebah Trigona di Sekitar Penyangga IKN. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kelompok Tani Hutan Sipaku IKN pada 1–2 Februari 2026 di Kelurahan Mentawir, Kecamatan Sepaku, wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas petani lebah kelulut melalui pengenalan teknologi pengolahan madu serta penguatan praktik budidaya lebah trigona yang sesuai dengan kondisi ekologis wilayah penyangga IKN. Program ini sejalan dengan upaya pengembangan hasil hutan bukan kayu yang berkelanjutan dan mendukung konsep IKN sebagai kota hijau (green city).
Dalam kegiatan tersebut diperkenalkan penggunaan mesin evaporator madu kelulut dengan daya 2.000 watt, kapasitas produksi terpasang 50 liter per tiga jam, dan suhu kerja 45 derajat Celsius. Mesin ini bekerja dengan prinsip evaporasi air dari madu untuk menurunkan kadar air madu kelulut tanpa merusak aroma dan kualitas alaminya. Peserta juga mendapatkan edukasi langsung mengenai karakteristik madu kelulut, termasuk praktik mencicipi madu yang diambil langsung dari sarangnya.
Selain teknologi pengolahan madu, peserta dibekali materi dan praktik budidaya lebah kelulut di wilayah penyangga IKN, meliputi teknik perbanyakan koloni serta pengenalan jenis lebah kelulut yang umum ditemukan di lokasi, yakni Heterotrigona itama dan Tetragonula fuscobalteata. Praktik panen propolis dari jenis Heterotrigona itama dilakukan langsung di halaman rumah petani kelulut sebagai bagian dari pembelajaran aplikatif di lapangan.

Narasumber kegiatan, Prof. Dr. Ir. Budiaman, MP, IPU, dosen Fakultas Kehutanan Unhas, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi hasil riset akademik untuk menjawab permasalahan madu tropis di Indonesia.
“Kami mengimplementasikan hasil-hasil riset ilmu lebah madu untuk meningkatkan kualitas madu kelulut, khususnya menurunkan kadar air yang relatif tinggi agar sesuai standar SNI 2024, sekaligus memberikan dampak nyata bagi petani, pelaku agroforestri, dan UMKM berbasis produk lebah madu,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa wilayah Sepaku IKN memiliki potensi vegetasi dan keanekaragaman bunga yang sangat mendukung pengembangan lebah kelulut. Kegiatan ini juga merupakan kelanjutan dari pelatihan budidaya lebah kelulut yang sebelumnya diselenggarakan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Unhas pada tahun 2023, sehingga memperkuat kesinambungan program pemberdayaan masyarakat di sekitar IKN.
Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Seluruh peserta mengikuti pelatihan hingga akhir dan berharap adanya pendampingan lanjutan dari Fakultas Kehutanan Unhas, terutama dalam pengembangan teknologi pengolahan madu tanpa pemanasan, pengujian mutu, sertifikasi produk, serta pengembangan UMKM desa berbasis lebah kelulut.




