Tamalanrea-Makassar. Prodi Rekayasa Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin menggelar kuliah umum prospek kultur jaringan untuk komersialisasi yang merupakan bagian dari mata kuliah kultur jaringan. Kuliah umum kali ini mengangkat tema “TIS Application in Commercial Forest and Fruit Cultivation” yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa Fakultas Kehutanan terkait komersialisasi pada bidang kultur jaringan dan bioteknologi. Kegiatan ini masih bagian dari Program Pengembangan Capaian Indikator Kinerja Utama (P2C-IKU) Prodi Rekayasa Kehutanan, berlangsung mulai pukul 11.00 Wita secara virtual melalui zoom meeting, Selasa (25/4).
Mengawali kegiatan Dekan Fakultas Kehutanan Unhas, Dr. A. Mujetahid M., S.Hut., M.P. dalam sambutannya menyampaikan bahwa kuliah ini sangat penting mengingat bahwa kebutuhan dan permintaan bibit di sektor kehutanan cukup besar. Dan adanya program Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup terkait penurunan emisi sebesar 29 persen pada tahun 2020 dan kehutanan dibebankan 17 persen, salah satu kegiatannya yaitu menggunakan rehabilitasi.
“Dalam pelaksanaan rehabilitasi tentunya membutuhkan bibit jumlah besar dengan kualitas yang bagus dalam waktu yang singkat dan alternative yang bisa dilakukan yaitu melalui kultur jaringan. Saya berharap kultur jaringan bisa di laboratorium Fakultas Kehutanan Unhas untuk jenis tanaman yang diperlukan ”, jelas A. Mujetahid.
Hadir sebagai narasumber, Hermanto, S.Si. (Sales Manager for Agriculture PT. Merck Chemical and Life Science) dalam materinya menyampaikan bahwa beberapa kegunaan kultur jaringan yaitu, perbanyakan vegetatif tanaman secara cepat dalam skala besar, produksi tanaman bebas penyakit terutama yang disebabkan oleh virus melalui kultur meristem, memfasilitasi metode regenerasi tanaman yang efisien untuk rekayasa genetika tanaman, mendapatkan varietas baru dan lain sebagainya.
Alur kerja kultur jaringan tanaman dimulai dari eksplan, sterilisasi, Inokulasi, inkubasi, kalus, multiplikasi, rooting dan aklimatisasi
“Pemilihan sumber eksplan sangat penting, tergantung dari induknya, jika induknya sangat bagus maka hasilnya akan bagus semua”, jelas Herman.
Beberapa keuntungan penggunaan Temporary Immersion System (TIS) atau sistem perendaman sementara yaitu perbanyakan tanaman yang lebih tinggi, pengurangan waktu, pengurangan ruang, pengurangan tenaga kerja, pengurangan biaya dan media dapat diubah dengan mudah.
“Tujuan penggunaan TIS adalah meningkatkan efisiensi culture untuk penyebaran massal, meningkatkan akurasi efektivitas culture pada setiap tahapannya, pengurangan potensi secara tidak normal dan peningkatan culture”, jelas Herman.
Peserta kegiatan ini tak hanya dari Fakultas Kehutanan Unhas, melainkan dari PT Vale, Universitas Andalas, Universitas Padang, PT sentra Aneka, Universitas Muhammadiyah Sorong dan Universitas Jambi.
Kegiatan berlangsung lancar sampai pukul 13.00 Wita dan diakhiri dengan sesi diskusi bersama.



